JÂMI’ AL-BAYÂN FÎ TAFSÎR AL-QUR’ÂN


Penulis:AT-THABARI
Kategori:Tafsir bil Matsur
Mazhab:Syafiiyah
Terbit:1992 M


Jilid : 12 Jilid

Terbit : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah (Beirut)

Kitab ini dikenal dengan sebutan Tafsir at-Thabary, yang pembahasannya didasarkan atas riwayat-riwayat dari Rasulullah Saw, para sahabat, dan tabi’in. Tafsirnya berisi juga kisah atau riwayat yang tidak shahih, termasuk cerita Isra’iliyat. Pokok-pokok gramatika al-Qur’an juga dibahas dan dijelaskan di dalamnya. Namun demikian, kitab ini merupakan salah satu karya tasir yang paling terkenal dan dijadikan rujukan oleh hampir setiap ulama. Tafsir ini menjadi referensi utama serta pokok bahasan bagi tafsir-tafsir berikutnya. Kitab ini telah dicetak dua kali di Mesir dan sampai saat ini belum ada terjemahan dalam bahasa Inggris.

Ketika Syekh al-Islam Taqi al-Din Ahmad ibn Taimiyah ditanyakan tentang tafsir mana yang lebih dekat kepada al-Qur’an dan Sunnah? Ia menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita sekarang, Tafsir Muhammad bin Jarir al-Thabari adalah yang paling otentik. Ia menambahkan, al-Thabari dalam tafsirnyamemuat ajaran-ajaran salaf dengan rangkaian sanad yang mapan dan tidak ada bid’ah di dalamnya, juga ia tidak menerima riwayat dari perawi seperti Muqatil ibn Bakir dan al-Kalabi. Secara spesifik Fu’ad Sezkin menaruh perhatian terhadap keshahihan sanad-sanad dalam tafsirnya yang dapat digunakan sebagai bukti bahwa kitab-kitab lebih awal yang dijadikan sebagai rujukan oleh Ibnu Jarir ketika menulis tafsirnya, dan sekaligus membantah pendapat para orientalis yang menyatakan bahwa Tafsir Ibnu Jarir semata-mata bersumber dari cerita-cerita lisan.

Penjelasan tentang tata bahasa dan aspek-aspek lain dari bahasa Arab yang ada sekarang dan kemudian, merupakan suatu keharusan dan keniscayaan dalam kitab ini. Tafsir ini tidak terlepas dari perdebatan teologis yang begitu menonjol pada masanya, sehingga di dalamnya terdapat kritik terhadap Qadariyah danJabariyah. Pembahasan mengenai fiqh dibuat sangat menarik, di mana dikemukakan pendapat hukum yang independen dan persoalan-persoalan fiqh yang berbeda dari keempat madzhab yang sudah mapan di kalangan ahl al-sunnah. Selain itu, ia juga berbeda pandangan dengan madzhab Hambali.

Ada beberapa kitab yang terkait dengan kitab ini, antara lain:

At-Thabari wa Minhajuhu fi at-Tafsir karya Dr. Mahmud ibn Syarif; Ibnu Jarir at-Thabari wa Minhajuhu fi at-Tafsir karya Dr. Muhammad Bakar Isma’il, Kairo: Dar al-Manar, Cet. I, tahun 1411 H./1991 M; At-Thabari Qari’an wa Ushuluhu fi Ikhtiyar al-Qira’at al-Qur’aniyah, Muhammad Najib Qubawah (Tesis di Universitas Damaskus); Muhammad ibn Jarir At-Thabari wa Minhajuhu fi at Tafsir karya Dr. Mahmud Muhammad Syubkah (Disertasi); As-Syi’r al-Jahili fi Tafsir at-Thabarikarya Laela Taufiq al-‘umari (Tesis di Universitas al-Ardani, Yaman), tahun 1414 H./1983 M; Imam at-Thabari Bahtsun fi at-Tafsir karya Syakir Abdillah ibn ‘Abd al-‘Aziz al-Mushlih, Riyadh: Univeritas Muhammad ibn Syu’ud; Al-Qira’at ‘Inda Abi Jarir at-Thabari fi Dhau’i al-Lughah wa an-Nahwi karya Ahmad Khalid Aba Bakr (Disertasi), Makkah al-Mukarramah: Universitas Ummu al-Qurra’, 1403 H., 2 jilid.

Selain itu, juga ada yang melakukan ringkasan (ikhtishar) terhadapnya, seperti:

Mukhtashar Tafsir at-Thabari karya Muhammad ibn Shumadih at-Tujaibi al-Andalusi, Kairo: al-Hae’at al-Mishriyah al-‘Ammah li al-Kitab, 2 jilid, 1400 H./1980 M.Mukhtashar Tafsir at-Thabari (ditahqiq oleh Syekh Muhamamd Ali ash-Shabuni dan Dr. Shalih Ahmad Ridha), Dar Ahya at-Turats al-‘Arabi, 2 jilid, 1402 H.

(Keterangan ini merujuk pada kitab At-Tafsir wa al-Mufassirun karya Muhammad Husain Adz-Dzahaby dan kitab Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir karya Ibnu Taimiyah)

LUBÂB AT-TA’WÎL FI MA’ÂNI AT-TANZÎL


Penulis:AL-KHAZIN
Kategori:Tafsir bil Matsur
Mazhab:Syafii-Asyariyah
Terbit:725 H


Tafsir ini lebih populer dengan sebutan tafsîr al-khâzin. Tafsir ini sangat terkenal. Penafsirannya didasarkan atas riwayat meskipun tidak menyebutkan sanadnya.

Tafsir al-Khazin dinilai sebagai ringkasan (mukhtashar) dari “Tafsir al-Baghawi” karya Husain bin Mas’ud al-Baghawi – yang juga merupakan ringkasan dari “Tafsir ats-Tsa’labi” karya Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labi. Karena itu, tafsir ini dianggap “ringkasan atas ringkasan” (mukhtashar li mukhtashar), yang di dalamnya hanya berisi cuplikan dan kutipan yang selektif, dengan menghilangkan rangkaian sanad dan menghindari penjelasan yang panjang. Ini dimaksudkan agar bisa memberikan kemudahan bagi para pembacanya dan kitab ini bisa lebih bermanfaat, demikian ditegaskan oleh an-Nasafi.

Tafsir ini dikategorikan Tafsir bil Ma’tsur karena banyak sekali mengangkat riwayat dalam penafsirannya, termasuk berbagai kisah sejarah dan cerita Israiliyat. Dalam hal ini, pengarang kitab tafsir ini menegaskan bahwa riwayat-riwayat itu merujuk pada kitab-kitab yang diperhitungkan oleh para ulama, seperti kitab “Al-Jam’ Baina ash-Shahîhain” karya Al-Humaidi dan kitab “Jâmi’ al-Ushûl” karya Ibn al-Atsir. Hanya saja sangat disayangkan, ternyata beberapa kisah sejarah dan cerita Israiliyat di dalam kitab tafsir tersebut masih dipenuhi dengan kisah dan cerita yang batil (diragukan kebenarannya), sebagaimana terdapat pada kitab rujukannya (“Tafsir al-Baghawi” dan “Tafsir ats-Tsa’labi”). Terhadap hal itu, Ali Iyazi mengklarifikasi, “Sesungguhnya Al-Khazin itu terkadang mengkritik sebagian cerita Israiliyat dan kisah palsu”.

Hanya ada satu karya tulis yang menyoroti tentang “Tafsîr al-Khâzin”, yaitu “Ikkhtishar Muhammad Ali Quthb” yang diterbitkan dalam dua jilid di Beirut, Libanon, Cetakan I, 1987.

ANWÂR AT-TANZÎL WA ASRÂR AT-TA’WÎL


Penulis:AL-BAIDHAWI
Kategori:Tafsir Sastra
Mazhab:Syafii-Asyariyah
Terbit:- M


Kitab tafsir ini dikenal dengan sebutan Tafsir al-Baidhawi. Tafsir ini merupakan salah satu kitab yang populer di dunia Islam, yang memiliki banyak manfaat,gaya bahasa yang indah, perumpamaan yang manis, dan banyak diminati para pakar dan cendekiawan terkemuka untuk mengkaji dan memberi catatan pinggir (komentar) terhadapnya, hingga tercatat sebanyak 83 buah kitab yang berisi hal itu. Dan, kitab yang terkenal memberikan catatan pinggir terhadap Tafsir al-Baidhawi di antaranya adalah catatan pinggir Syekh Zadah dan Syihab al-Khaffaji (‘Inâyat al-Qâdhi).

Isinya dibuat semodel ringkasan (ikhtishâr), mengandung berbagai pemikiran, pandangan-pandangannya diarahkan pada banyak dimensi gramatika bahasa, fiqh, dan ushul yang terkandung dalam ayat-ayat al-Quran, dan begitu juga dari sudut pandang bacaan (qirâat) dan makna intrinsik ayat (isyârât), serta mengkombinasikan antara tafsir dan takwil berdasarkan kaidah-kaidah bahasa dan syar’i.

Metode penafsirannya dibuat sebagaimana umumnya kitab-kitab tafsir, menyebutkan nama surat, mengaitkan dengan konteks turunnya, baru menafsirkan ayat demi ayat, serta mengangkat hadis tentang keutamaannya pada akhir surat tersebut.

Penafsiran yang dilakukan al-Baidhawi dalam hal gramatika bahasa, ma’ani, dan bayan merujuk pada kitab Al-Kasysyâf karya Az-Zamakhsyari, sampai-sampai dikategorikan sebagai “ikhtishâr al-Kasysyâf” karena itu. Akan tetapi, al-Baidhawi meninggalkan pandangan-pandangan Mu’tazilahnya dan berpegang pada madzhab Asy’ariyah dalam masalah teologi dan kalam, demikian menurut adz-Dzahabi. Selain itu, juga merujuk pada kitab At-Tafsîr al-Kabîr milik Ar-Razi dalam kaitannya dengan hikmah dan kalam, serta Jâmi’ at-Tafsîr karya Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kaitannya dengan pembentukan kata, makna intrinsik, dan isyarat-isyarat batin dari ayat.

Namun demikian, kitab ini tidak terhindar dari hadis-hadis dha’if atau palsu, dan cerita israiliyat (walau sedikit sekali) pada pembahasan akhir surat tentang keutamaannya.

(Keterangan ini merujuk pada kitab At-Tafsiîr wa al-Mufassirûn karya Muhammad Husain Adz-Dzahaby, kitab Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum karya Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dan kitab Anwâr at-Tanzîl sendiri)

BAHR AL-‘ULÛM


Penulis:AS-SAMARQANDI
Kategori:Tafsir bil Matsur
Mazhab:Hanafi-Asyariyah
Terbit:Tth. M


Kitabnya dikenal dengan Tafsîr Abu Laits as-Samarqandy, yang merujukkan penafsirannya pada riwayat-riwayat kalangan Salaf, baik para sahabat maupun tabi’in, seperti Abdullah ibn ‘Abbas, Abdullah ibn Mas’ud, Ubay ibn Ka’ab. Ia banyak menyebutkan riwayat dari mereka tetapi tanpa memberikan penilaian yang kritis terhadap isnâd (mata rantai perawi hadits).

Menurut adz-Dzahabi, tafsir ini mengkombinasikan corak pendekatan tafsir bi ar-riwâyat (menurut dalil naqli) dan tafsir bi ad-dirâyat (menurut dalil ‘aqli). Namun, karena lebih cenderung memilih dalil naqli daripada dalil ‘aqli setiap kali ada perbedaan antara keduanya, maka karya tersebut tergolong Tafsîr bi al-Ma’tsûr. As-Samarqandi tidak memulai dengan pendahuluan yang menjelaskan tentang metodologi pembahasan tafsir sebagaimana umumnya, melainkan hanya sebuah bab pembuka tentang motivasinya untuk melakukan penafsiran.

Kitab ini sampai sekarang masih berupa manuskrip dalam dua bentuk, yang satu terdiri dari dua jilid sedangkan yang lain terdiri dari 3 jilid, yang terdapat di perpustakaan Universitas al-Azhar, Mesir.

(Keterangan ini merujuk pada kitab At-Tafsîr wa al-Mufassirûn karya Muhammad Husain Adz-Dzahaby dan kitab Manâhil al-‘Irfân fi ‘Ulûm al-Qur’ân karya az-Zarqani).

TAFSÎR MAFÂTIH AL-GHAIB


Penulis:FAKHRUDDIN AR-RAZI
Kategori:Tafsir bir Rayi
Mazhab:Syafii-Asyariyah
Terbit:- M


Tafsir ini juga dikenal sebagai Tafsîr al-Kabîr atau Tafsîr ar-Râzi. Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ar-Razi tidak menyelesaikan tafsir ini secara utuh (sampai surat al-Anbiyâ’ saja), seperti yang dituturkan adz-Dzahabi dalam kitabnya menukil pendapat Ibnu Qadhi Syuhbah dan Ibnu Khalkân. Adapun yang melanjutkan adalah Syihabuddîn bin Khalîl al-Khûyi (w. 639 H.) dan Najmuddîn Ahmad bin Muhammad al-Qamûli (w. 727 H.) yang melengkapinya lebih lanjut, demikian merujuk keterangan dari Ibnu Hajar al-‘Asqalâni dan Malâ Kâtib Jalbi.

Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dengan merujuk keterangan Muhsin Abdul Hamid, dalam hal ini memberikan klarifikasi bahwa sekelompok pembahas menetapkan kitab tafsir ini sebagai karya mandiri dari Fakhruddin ar-Razi secara utuh. Karenanya, pendapat sebelum ini dianggap syubhat (meragukan) dan tidak bisa dijadikan pegangan.

Lepas dari polemik di atas, ini adalah salah satu kitab tafsir bi ar-ra’yi yang paling komprehensif, karena menjelaskan seluruh ayat al-Qur’an. Sang pengarang terlihat berusaha menangkap substansi (ruh) makna yang terkandung dalam teks al-Qur’an. Muhsin Abdul Hamid menegaskan: “Dia (Ar-Razi) menggunakan ilmu-ilmu humaniora untuk menggapai tujuan (tafsir)-nya, yaitu menetapkan keistimewaan akal dan ilmu di hadapan al-Qur’an, membersihkan dari kerancuan fikiran dan kedangkalan akal, serta menegaskan kebenaran riwayat (teks) dengan kedalaman fikiran”.

Adapun maksud dari tafsir ini dan segala uraiannya, antara lain: Pertama, menjaga dan membersihkan al-Qur’an beserta segala isinya dari kecenderungan-kecenderungan yang rasional, tetapi justru dengan itu diupayakan bisa memperkuat keyakinan terhadapnya (al-Qur’an); Kedua, pada sisi lain, ar-Razi meyakini pembuktian eksistensi Allah dengan dua hal, yaitu “bukti terlihat” dalam bentuk wujud kebendaan dan kehidupan, serta “bukti terbaca” dalam bentuk al-Qur’an al-Karim. Apabila kita merenungi hal yang pertama secara mendalam, maka kita akan semakin memahami hal yang kedua, menurutnya lebih lanjut. Karena itu, dia merelevansikan antara keyakinan ilmiah dengan kebenaran ilmiah dalam tafsirnya; Ketiga, ar-Razi ingin menegaskan bahwa sesungguhnya studi balaghah dan pemikiran bisa dijadikan sebagai materi tafsir, serta digunakan untuk menakwil ayat-ayat al-Qur’an, selama berdasarkan kaidah-kaidah madzhab yang jelas, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Namun, karena pembahasan di dalamnya menggunakan metode penalaran logika dan istilah-istilah ilmiah, serta mencakup ilmu kedokteran, ilmu mantiq, ilmu filsafat, dan ilmu hikmah, maka kitab ini terkesan kehilangan intisari tafsir dan hidayah keislamannya. Sampai-sampai, sebagian ulama menilai “di dalamnya (Tafsir ar-Razi) terkandung berbagai hal, kecuali tafsir”. Dengan bahasa lain, Abu Hayyan menegaskan bahwa Fakhruddin ar-Razi menghimpun dan menjelaskan banyak hal secara panjang lebar dalam tafsirnya, sehingga (seolah-olah) tidak lagi membutuhkan ilmu tafsir. Dalam hal ini, wajar kiranya bila adz-Dzahabi menyebut tafsir ini sebagai ensiklopedi akademis dalam bidang ilmu kalam (teologi) dan ilmu pengetahuan alam.

Fakhruddin ar-Razi sangat mementingkan korelasi antar ayat-ayat al-Qur’an dan surat-suratnya, di samping penjelasan secara panjang lebar tentang tata bahasa (gramatika). Walau mencakup pembahasan yang ekstensif mengenai permasalahan filsafat, di antara berbagai aspek dari tafsir ini yang paling penting adalah pembahasan tentang ilmu kalam. Pembahasan ini memuat persoalan-persoalan yang berhubungan dengan Allah Swt. dan eksistensi-Nya, alam semesta, dan manusia, yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan alam, astronomi, perbintangan (zodiak), langit dan bumi, hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta bagian-bagian tubuh manusia.

Tafsir ini merujuk pada kitab Az-Zujaj fi Ma’ani al-Qur’an, Al-Farra’ wa al-Barrad, dan Gharib al-Qur’an karya Ibnu Qutaibah dalam masalah gramatika. Riwayat-riwayat (tafsir bi al-ma’tsur) yang jadi rujukan adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Suday, Sa’id bin Jubair, riwayat dalam Tafsir at-Thabari (Jâmi’ al-Bayân) dan Tafsir Ats-Tsa’labi (Al-Kasyf wa al-Bayan), juga berbagai riwayat dari Nabi Saw, keluarga dan para sahabatnya, serta tabi’in. Sedangkan Tafsir bi ar-Ra’yi yang jadi rujukan ialah Tafsir Abu Ali al-Juba’i, Abu Muslim al-Asfahani, Qadhi Abd al-Jabbar, Abu Bakar al-Asham, Ali bin Isa ar-Rummani, az-Zamakhsyari, Tafsir-tafsir Persia, dan Tafsir Abu al-Futuh ar-Razi.

(Referensi bisa dilihat pada Muhammad Husain Adz-Dzahaby, Al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Kairo, 1961, Jilid I, hal. 291. Lihat pula Ibnu Qadhi Syuhbah, Syidzrat adz-Dzahab, juz V, h. 21; Ibnu Khalkan, Wafayât al-A’yân, juz II, h. 267; Lihat pula Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, Ad-Durar al-Kâminat, juz I, h. 304 dan Malâ Kâtib Jalbi, Kasyf adz-Dzunûn, juz II, h. 299. Sayyid Muhammad Ali Iyazi, Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum, Teheran: Muassasah at-Thaba’ah wa an-Nasyr, 1212 H., cet. I, hal. 652; juga Muhsin Abdul Hamid, Ar-Râzi Mufassiran, hal. 53-63 dan Mannā’ al-Qaththān, Mabāhits fi ‘Ulūm al-Qur’ān, Damaskus: Maktabah al-Ghazāli, 1981, h. 366).

Detik-detik Terakhir Rasulullah SAW


Detik-detik terakhir Rasulullah merupakan masa-masa paling mengharukan bagi umat Islam, kesedihan mendalam karena akan segara kehilangan seorang sosok mulia.
Beliau adalah pemimpin, sahabat, ayah, suami, menantu, mertua, idola, Rasul, dan berbagai bentuk sosok lain bagi umat muslim. Dan saat detik-detik terakhir beliau, semua orang terasa belum mampu untuk kehilangan beliau.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai ding! in, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.



Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

(riwayat Bukhari Muslim, nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal di pangkuannya Aisyah.)

Malam Pertama


بسم الله الرحمن الرحي

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

ini ada note yg ditag seorang teman, dica ya..

=====

Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa
Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu
Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih


Kain itu ....jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan
Dan akhirnya.... . . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... ..
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata....
Seolah barang berharga yang sangat mahal...
Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi .....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga
Baca jika anda ada masa /waktu untuk ALLAH.
Bacalah hingga habis.
Saya hampir membuang email ini namun saya telah diberi anugerah untuk
membaca terus hingga ke akhir.

ya ALLAH, bila saya membaca notes ini, saya pikir saya tidak ada waktu untuk ini....
Lebih lebih lagi diwaktu kerja. Kemudian saya tersadar bahwa pemikiran semacam inilah yang ....
Sebenarnya, menimbulkan pelbagai masalah di dunia ini.

Kita coba menyimpan ALLAH didalam MASJID pada hari Jum'at......
Mungkin malam JUM'AT?
Dan sewaktu solat MAGRIB SAJA?
Kita suka ALLAH pada masa kita sakit.....
Dan sudah pasti waktu ada kematian...

Walau bagaimanapun kita tidak ada waktu atau ruang untuk ALLAH waktu
bekerja atau bermain?
Karena...
Kita merasakan diwaktu itu kita mampu dan sewajarnya mengurus sendiri
tanpa bergantung padaNYA.

Semoga ALLAH mengampuni aku karena menyangka... ...
Bahwa nun di sana masih ada tempat dan waktu dimana ALLAH bukan lah yang
paling utama dalam hidup ku (nauzubillah)

Kita sepatutnya senantiasa mengenang akan segala yang telah DIA berikan
kepada kita.
DIA telah memberikan segala-galanya kepada kita sebelum kita meminta.
ALLAH
Dia adalah sumber kewujudanku dan Penyelamatku
IA lah yang mengerakkan ku setiap detik dan hari.
TanpaNYA aku adalah AMPAS yang tak berguna.
Susah vs. Senang
Kenapa susah sekali menyampaikan kebenaran?

Kenapa mengantuk dalam MASJID tetapi ketika selesai ceramah kita segar
kembali?
Kenapa mudah sekali membuang e-mail agama tetapi kita bangga mem "forward"
kan email yang tak senonoh?
Hadiah yang paling istimewa yang pernah kita terima.
Solat adalah yang terbaik.... Tidak perlu bayaran , tetapi ganjaran lumayan.
Notes: Tidak kah lucu betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA ALLAH
setelah itu heran kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.

Tidakkah lucu bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI
SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also "believes" in ALLAH ).

Tidakkah lucu bagaimana anda mampu mengirim ribuan email lawak yang
akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkendali., tetapi bila anda
mengirim email mengenai ISLAM, sering orang berpikir 10 kali untuk
berkongsi?

Tidakkah mengherankan bagaimana bila anda mulai mengirim pesan ini anda
tidak akan mengirim kepada semua rekan anda karena memikirkan apa
tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti apakah mereka suka atau
tidak?.

Tidakkah mengherankan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan orang
kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda.

Aku berDOA , untuk semua yang mengirim pesan ini kepada semua rekan mereka
di rahmati ALLAH.